“Kopi itu pahit. Kopi itu hitam.
Kopi itu manis. Kopi itu harum. Kopi itu seperti kehidupan. Memberi aroma yang berbeda
untuk sekelilingnya. Aroma yang memberikan rasa damai, rasa rindu dan
kenyamanan.”
Cahaya
putih meyilaukan mataku. Semakin mendekat, dekat dan terang. Perlahan aku membuka
kedua mataku yang berat. Keyla, mbak Naya dan Santi berjaga
di samping tempat aku berbaring.
“Astghfirullahal’azim..” Aku segera
ingin terbangun, namun rasa sakit di kepala menghalangiku. Aku mulai meraba dan
mulai mengingat pada yang sedang terjadi.
“Minah sudah siuman?” Kata Keyla sambil membawakan teh panas untukku.
”Yunda tadi saya temukan pingsan di
kamar mandi kos.”
Aku pingsan? Kenapa dengan diriku? Apa karena kerinduanku terhadap
mamak? Sudah dua tahun ini aku tidak pulang. Dan rasa bersalah itu. Aku sadar,
aku memang bukan anak yang berbakti dan selalu membuat mamak beristighfar. Dua tahun sudah aku mengenyam pendidikan di tanah bogor ini,
meski diiringi cacian orang kampung terhadap jurusan yang aku ambil, aku tetap
bersyukur atas semua itu. Satu tahun lagi aku akan keluar dari kota hujan ini,
dan aku harus kembali ke kampung. Jelas aku harus membuktikan kesalahan omongan
orang-orang terhadap jurusan yang aku pilih, sekaligus juga membuktikan bahwa
aku dan bapak tidak bersalah atas kejadian dua tahun silam. Aku ingin
membuktikan bahwa Minah telah berubah. Pengalaman dua tahun di sini, kesusahan
bertahan hidup di kota orang telah mengubahku.
“Yunda..” Keyla, memegang tanganku, membuyarkan lamunanku. Wajahnya tampak
khawatir.
JJJ
Tiga tahun sudah, titel Ahli Madya
sudah kudapatkan. Tawaran pekerjaan pun sudah ditangan, tinggal sekarang
saatnya aku pulang. Kembali ke Blora. Aku sudah rindu tanah itu. Rindu cium
tangan mamak dan bapak. Kasih sayang mereka merupakan aroma kopi bagiku,
terutam mamak tercintaku.
Secangkir kopi kehidupan yang aku
jalani selama ini, tak selamanya pahit dan tak lama pula manis. Jelas yang
manis itu amat menyenangkan, menjadi alasan bagi ku untuk terus melangkah
maju.Sementara yang pahit aku jadikan pengingat, jadi cambuk bagi ku untuk
lebih giat dan bersemangat. Aku percaya, segala rencana-Nya adalah baik. Tidak
sekarang, esok lusa aku akan paham. Sambil tak henti membisikkan syukur pada-Nya, tangan ku
dengan cekatan mengepak beberapa oleh-oleh.
“Selamat malam permisa. Saya, Nagita
Ganding, melaporakan langsung dari Blora” Blora..? Gerakan tangan ku terhenti.
Sepotong gamis oleh-oleh buat mamak aku tinggalkan separuh terbungkus. Tangan
ku beranjak menaikkan volume televisi. Ada apa dengan tanah kelahiran ku?
“...Diduga telah melakukan suap,
terlibat dalam sindikat penjualan perempuan,dan kasus korupsi dana APBN daerah.
Seorang anak jendral ditangkap oleh pihak kepolisian Blora...”
Masya Allah!!! Itu bukannya Roy? Anak jenderal yang pernah membuat aku
dan keluarga kesusahan? air mata ku mengalir. Sambil terisak ku bisikkan terima
kasih ku atas rencana-Nya ini. Aku lega, berita ini meperingankan
langkahku untuk pulang. Mamak, Bapak, Minah akan pulang.
JJJ
Tak ada yang berubah dari yang pernah kutinggalkan. Kecuali pondok
makanan kecil yang berada di
pojok gapura tempat aku berdiri. Pondok ini sekarang sudah berubah jadi mini market modern dengan berbagai kemewahan didalamnya. Pak Zainal, pemuka agama kampung kami, menjadi orang
pertama yang aku lihat setelah hampir setengah jam lalu aku sampai di tempat ini. Dengan
kopyah putih dan sorban kotak-kotaknya ia melangkah tertatih menuju mushola,
menggambarkan berapa beban usianya sekarang.
Suaranya yang membelalak selalu sukses
memecah keheningan subuh buta. Aku amati setiap sudut kampong tercintaku,
berdiri di dekat tempat wudhu. Namun pak Zainal tidak menghiraukan kedatanganku,
bahkan orang-orang yang datang bersembah yang tidak satu pun menyapaku. Aku terdiam, mencoba berbaik sangka bahwa
mereka masih terlalu mengantuk untuk mengenaliku.
“Allahuakbar..Allaaaaahuakbar…
Allaaaahuakbar.Allaaahuakbar…..” Sayup adzan menyemai teligaku saat aku berjalan menjauh dari mushola. Lampu-lampu mulai dimatikan, orang-orang beranjak dari tidurnya menuju tempat persembahyangan.
Aku berniat akan segera sholat jika aku sudah sampai ujung kampong ini.
Tepatnya di gubuk bambuku. Aku ingin segera memeluk mamak tercintaku. Bengkak mataku
hasil tidak tidur semalam tidak aku hiraukan.Setelah sekian tahun
lamanya takjumpa, rasanya
rindu sekali.
“Assalamu’laikum….” Sepi, ”Assalamu’alaikum…..mak….”Tidak
ada jawaban.
Apakah mamak masih tidur. Ataukah tidak kedengaran,
pikirku. Aku tunggu sampai hampir seperempat jam, namun belum juga ada balasan. Lelah menunggu. Aku beranjak menuju pintu belakang.
Tiba-tiba terdengar derit dibuka.
“Mamak…” Bukan. Bukan mamak yang membuka pintu,
melainkan bapak. Meskipun sama-sama yang kerindukan, namun aku berharap
mamaklah yang membukakan pintu. Aku beranjak berdiri, mencium hangat tangan
bapak. Aku tidak melihat mamak dirumah ini meskipun aku sudah beberapa menit duduk di kursi ruang tamu.
“Mamak mana pak?”Bapak tidak menjawab.
Hanya beranjak berdiri, sambil lalu menyuruh ku istirahat. Bilang nanti saja ke
tempat mamak. Aku tidak sabar bertemu mamak, keras
kepala meminta bapak untuk mengantarkanku ke tempat mamak. Akhirnya setelah
susah payah membujuk, bapak bersedia. Aku berjalan di belakang bapak, bertanya-tanya sedang apa
mamak di luar rumah sepagi ini. Bapak lebih banyak diam, menjawab pendek ketika
satu dua kali aku bertanya. Aku tak punya pikiran apa-apa, kepalaku hanya
berisi rasa rindu pada mamak tercintaku. Barulah ketika jalan kami berbelok ke
arah makam, aku mulai gundah. Aku berhenti, berharap bapak salah jalan. Tapi
bapak cuma menoleh, lalu kembali berjalan.
Kami berjalan dalam diam. Aku mencoba
menghilangkan pikiran-pikiran buruk. Mungkin
mamak sedang ziarah...batin ku mencoba berbaik sangka. Hingga langkah kami
berhenti disatu makam yang tampak masih baru ketimbang makam yang lain. Bapak
diam saja, memandangi tanah merah di hadapan kami. Aku menatapnya, bertanya,
lebih tepatnya berharap bapak hanya bercanda. Perlahan bapak berkata “Ini tempat peristirahatan
mamakmu..” Aku sudah ambruk, menangis terisak
sambil bersimpuh di pusara mamak ku (Ntk.)
“Aroma itu adalah
cinta kasih yang tak pernah
tergantikan. I wiil always Love u, mom”
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar