Jumat, 07 Juni 2013

aroma kopi

Kopi itu pahit. Kopi itu hitam. Kopi itu manis. Kopi itu harum. Kopi itu seperti kehidupan. Memberi aroma yang berbeda untuk sekelilingnya. Aroma yang memberikan rasa damai, rasa rindu dan kenyamanan.”
Cahaya putih meyilaukan mataku. Semakin mendekat, dekat dan terang. Perlahan aku membuka kedua mataku yang berat. Keyla, mbak Naya dan Santi berjaga di samping tempat aku berbaring.
“Astghfirullahal’azim..” Aku segera ingin terbangun, namun rasa sakit di kepala menghalangiku. Aku mulai meraba dan mulai mengingat pada yang sedang terjadi.
Minah sudah siuman?” Kata Keyla sambil membawakan teh panas untukku.
”Yunda tadi saya temukan pingsan di kamar mandi kos.”
Aku pingsan? Kenapa dengan diriku? Apa karena kerinduanku terhadap mamak? Sudah dua tahun ini aku tidak pulang. Dan rasa bersalah itu. Aku sadar, aku memang bukan anak yang berbakti dan selalu membuat mamak beristighfar. Dua tahun sudah aku mengenyam pendidikan di tanah bogor ini, meski diiringi cacian orang kampung terhadap jurusan yang aku ambil, aku tetap bersyukur atas semua itu. Satu tahun lagi aku akan keluar dari kota hujan ini, dan aku harus kembali ke kampung. Jelas aku harus membuktikan kesalahan omongan orang-orang terhadap jurusan yang aku pilih, sekaligus juga membuktikan bahwa aku dan bapak tidak bersalah atas kejadian dua tahun silam. Aku ingin membuktikan bahwa Minah telah berubah. Pengalaman dua tahun di sini, kesusahan bertahan hidup di kota orang telah mengubahku.
“Yunda..” Keyla, memegang tanganku, membuyarkan lamunanku. Wajahnya tampak khawatir.  
JJJ
Tiga tahun sudah, titel Ahli Madya sudah kudapatkan. Tawaran pekerjaan pun sudah ditangan, tinggal sekarang saatnya aku pulang. Kembali ke Blora. Aku sudah rindu tanah itu. Rindu cium tangan mamak dan bapak. Kasih sayang mereka merupakan aroma kopi bagiku, terutam mamak tercintaku.
Secangkir kopi kehidupan yang aku jalani selama ini, tak selamanya pahit dan tak lama pula manis. Jelas yang manis itu amat menyenangkan, menjadi alasan bagi ku untuk terus melangkah maju.Sementara yang pahit aku jadikan pengingat, jadi cambuk bagi ku untuk lebih giat dan bersemangat. Aku percaya, segala rencana-Nya adalah baik. Tidak sekarang, esok lusa aku akan paham. Sambil tak henti membisikkan syukur pada-Nya, tangan ku dengan cekatan mengepak beberapa oleh-oleh.
“Selamat malam permisa. Saya, Nagita Ganding, melaporakan langsung dari Blora” Blora..? Gerakan tangan ku terhenti. Sepotong gamis oleh-oleh buat mamak aku tinggalkan separuh terbungkus. Tangan ku beranjak menaikkan volume televisi. Ada apa dengan tanah kelahiran ku?
“...Diduga telah melakukan suap, terlibat dalam sindikat penjualan perempuan,dan kasus korupsi dana APBN daerah. Seorang anak jendral ditangkap oleh pihak kepolisian Blora...”
Masya Allah!!! Itu bukannya Roy? Anak jenderal yang pernah membuat aku dan keluarga kesusahan? air mata ku mengalir. Sambil terisak ku bisikkan terima kasih ku atas rencana-Nya ini. Aku lega, berita ini meperingankan langkahku untuk pulang. Mamak, Bapak, Minah akan pulang.
JJJ
Tak ada yang berubah dari  yang pernah kutinggalkan. Kecuali pondok makanan  kecil yang berada di pojok gapura tempat aku berdiri. Pondok ini sekarang sudah berubah jadi mini market modern dengan berbagai kemewahan didalamnya. Pak Zainal, pemuka agama kampung kami, menjadi orang pertama yang aku lihat setelah hampir setengah jam lalu aku sampai di tempat ini. Dengan kopyah putih dan sorban kotak-kotaknya ia melangkah tertatih menuju mushola, menggambarkan berapa beban usianya sekarang.
Suaranya yang membelalak selalu sukses memecah keheningan subuh buta. Aku amati setiap sudut kampong tercintaku, berdiri di dekat tempat wudhu. Namun pak Zainal tidak menghiraukan kedatanganku, bahkan orang-orang yang datang bersembah yang tidak satu pun menyapaku. Aku terdiam, mencoba berbaik sangka bahwa mereka masih terlalu mengantuk untuk mengenaliku.
“Allahuakbar..Allaaaaahuakbar… Allaaaahuakbar.Allaaahuakbar…..” Sayup adzan menyemai teligaku saat aku berjalan menjauh dari mushola. Lampu-lampu mulai dimatikan, orang-orang beranjak dari tidurnya menuju tempat persembahyangan. Aku berniat akan segera sholat jika aku sudah sampai ujung kampong ini. Tepatnya di gubuk bambuku. Aku ingin segera memeluk mamak tercintaku. Bengkak mataku hasil tidak tidur semalam tidak aku hiraukan.Setelah sekian tahun lamanya takjumpa, rasanya rindu sekali.      
“Assalamu’laikum….” Sepi, Assalamu’alaikum…..mak….”Tidak ada jawaban.
 Apakah mamak masih tidur. Ataukah tidak kedengaran, pikirku. Aku tunggu sampai hampir seperempat  jam, namun belum juga ada balasan. Lelah menunggu. Aku beranjak menuju pintu belakang. Tiba-tiba terdengar derit dibuka.
Mamak…” Bukan. Bukan mamak yang membuka pintu, melainkan bapak. Meskipun sama-sama yang kerindukan, namun aku berharap mamaklah yang membukakan pintu. Aku beranjak berdiri, mencium hangat tangan bapak. Aku tidak melihat mamak dirumah ini meskipun aku sudah beberapa menit duduk di kursi ruang tamu.
“Mamak mana pak?”Bapak tidak menjawab. Hanya beranjak berdiri, sambil lalu menyuruh ku istirahat. Bilang nanti saja ke tempat mamak. Aku tidak sabar bertemu mamak, keras kepala meminta bapak untuk mengantarkanku ke tempat mamak. Akhirnya setelah susah payah membujuk, bapak bersedia. Aku berjalan di belakang bapak, bertanya-tanya sedang apa mamak di luar rumah sepagi ini. Bapak lebih banyak diam, menjawab pendek ketika satu dua kali aku bertanya. Aku tak punya pikiran apa-apa, kepalaku hanya berisi rasa rindu pada mamak tercintaku. Barulah ketika jalan kami berbelok ke arah makam, aku mulai gundah. Aku berhenti, berharap bapak salah jalan. Tapi bapak cuma menoleh, lalu kembali berjalan.
Kami berjalan dalam diam. Aku mencoba menghilangkan pikiran-pikiran buruk. Mungkin mamak sedang ziarah...batin ku mencoba berbaik sangka. Hingga langkah kami berhenti disatu makam yang tampak masih baru ketimbang makam yang lain. Bapak diam saja, memandangi tanah merah di hadapan kami. Aku menatapnya, bertanya, lebih tepatnya berharap bapak hanya bercanda. Perlahan bapak berkata “Ini tempat peristirahatan mamakmu..” Aku sudah ambruk, menangis terisak sambil bersimpuh di pusara mamak ku (Ntk.)

Aroma itu adalah  cinta kasih  yang tak pernah tergantikan. I wiil always Love u, mom”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar